Rabu, 10 Desember 2014

Agama dan Psikoterapi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang ada pada jiwa dan hakikat manusia itu sendiri, maksudnya manusia memiliki daya berpikir yang ada pada akalnya, pada hakikat nya itu sendiri adalah bagaimana manusia itu menjalankan segala kejiwaan atau perilaku yang ada di batinnya seperti mengerjakan shalat, puasa, zakat, dan haji. Maka dari itu, tanpa adanya agama,  jiwa manusia tidak dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, agama dan percaya kepada Tuhan dapat menenangkan kekosongan didalam jiwa.
B. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian Psikologi dan Psikologi Agama ?
  2. Apa pengertian Psikoterapi ?
  3. Apa pengertian Psikoterapi Islam dan Objeknya apa saja ?
  4. Seperti apa Agama sebagai Psikoterapi itu ?







BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam islam istilah “jiwa” dapat di samakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya dari pada istilah al-ruh. Psikologi dapat diterjemahkan dalam bahasa arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.[1]
B. Psikologi Agama
Psikologi  agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan, sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.
Bidang kajian psikologi agama adalah psikis manusia dalam hubungannya dengan hubungannya dengan manifestasi keagamaannya, yaitu kesadaran agama (religius consciusness) dan pengalaman agama (religious experiance). Kesadaran agama hadir dalam keyakinan sebagai buah dari amal keagamaan semisal melazimkan dzikir. Jadi, objek studinya dapat berupa:
  1. Gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan
  2. Proses hubungan antara psikis manusia dan lingkungan laku keagamaannya.[2]
C. Agama dan yang terkait dengan agama (Tuhan, spiritual dan keimanan)
Menurut Edward caird, agama seseorang adalah ungkapan dan sikap akhirnya pada alam semesta, makna dan tujuan dari seluruh kesadarannya pada  segala sesuatu. Menurut F.H Bradley agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita. Agama adalah pengalaman dunia seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan kepribadian.
Kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai super natural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang, keduanya adanya keimanan, yang sebenarnya  intrinsik ada pada pengalamandunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.[3]
1. Tuhan/God/Allah
Menurut Carl Jung (1955) Tuhan adalah suatu kekuatan yang berpengaruh besar yang alami dan pengaruhnya  tidak dapat dibendung. Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir, manusia ber-Tuhan karena manusia  menggunakan kemanpuan berfikir. Kehidupan  ber agama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia.[4]
2. Spiritual
Dalam pengertian luas merupakan hal yang berhubungan dengan spirit. Sesuatu  yang spiritual memiliki kebenaran yang abadi yang berhubungan  dengan tujuan dengan tujuan hidup manusia, sering dibandingkan dengan sesuatu yang bersifatduniawi, dan sementara, didalamnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap kekuatan supernatural seperti dalam agama, tetapi memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Spiritual dapat merupakan ekspensi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih ter integrasi dalam pandangan  hidup seseorang, dan lebih dari padahal yang bersifat duniawi.
Pihak lain mengemukakan bahwa aspek spiritual memiliki dua aspek. Pertama, proses keatas yang merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan. Kedua,proses kebawah yang  ditandai dengan peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal.[5]
3. Keimanan
Pada umumnya iman disini selalu dihubungkan dengan kepercayaan dalam atau berkenaan dengan agama. Iman juga dikenal dengan istilah akidah, akidah artinya ikatan, yaitu iokatan hati. Bahwa sanya seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaan dengan suatu kepercayaan yang tidak lagi ditukar dengan kepercayaan yang lain. Akidah tersebut akakan menjadi pegangan dan pedoman hidup, dan menjadi darah daging dalam diri (jasmani dan rohani) yang tidakdapat dipisahkan lagi dari diri seorang muslim.
Dalam divisi lain iman menurut pengertian bahasaa arab ialan At tashdiqu bil qalbi membenarkan dengan (dalam) hati, sedangkan pengertian iman menurut syara’ adalah:
”mengucapkan dengan lidah, menbenarkan dengan hati dan ngerjakan dengan anggota badan”
 Dalam iman, seorang  manusia berkeyakinan bahwa ia berhubungan dengan Allah sendiri. Maka dari itu objek iman bukanlah pengertian-pengertian gagasan-gagasan atau ide-ide mengenai Tuhan melainkan Tuhan itu sendiri. Tuhan lah  yang mempercayai manusia, Tuhan dalam kepribadian dan dalam manifestasi-manifestasi-Nya. Antara orang yang beriman dengan Tuhannya tedapat hubungan pribadi. Bagi orang beriman, Tuhan menjadi hasrat-hasratnya yang intim, tetapi juga sekaligus menolong yang diandalkannya dalam mengejar kesempurnaan eksistensinya.[6]
D. Pengertian Psikoterapi
Secara harfiah psikoterapi berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan therapy yang berarti penyembuhan. Psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa atau usada jiwa atau usada mental.
Psikoterapi juga diartikan sebagai pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya, dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.[7]
1. Tujuan Psikoterapi
Corey (1991) merumuskan tujuan psikoterapi pada usaha untuk memberikan rasa aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat. Untuk memunkinkannya berkembang ke arah keterbukaan, memperkuat kepercayaan diri, kemauan melakukan sesuatu dan meningkatkan spontanitas dan kesegaran dalam hidupnya. 
2. Tujuan psikoterapi yang lainnya adalah :
a.       Mengubah gejala penyakit mental
b.      Mengubah gejala (symptom) yang ada.
Tujuan utama penyembuhan ialah menyingkirkan penderitaan pasien dan menghilangkan kerusakan akibat negatif yang disebabkan adanya gejala-gejala tersebut.
c.       Mengubah gejala yang ada.
Seringkali lingkungan tertentu menghalangi dan tidak sesuai dengan penyembuhan secara sempurna. Dalam keadaan tertentu penyembuhan tidak dapat dilaksanakan, karena motivasi yang tidak sesuai, lemahnya kepribadian pasien, terbatasnya waktu atau keuangan. Hal ini akan membatasi keleluasaan pertolongan, sehingga si ahli hanya mampu mengubah atau memodifikasikan gejala-gejala yang ada pada pasien dan tidak mampu menyembuhkannya.
d.      Menurunkan gejala yang ada.
Ada beberapa bentuk penyakit emosional yang dapat berkembang pesat menuju kerusakan. Psikoterapi yang tepat sekalipun hanya mampu melayani untuk menghentikan, menurunkan atau memundurkan kembali proses kepesatannya, seperti pada tipe schizopherenia. Efek mengembalikan atau menurunkan kepesatan kerusakan penyakit tersebut sering kali dapat menolong pasien untuk kembali mampu mengadakan kontak dengan realitas.
e.       Memperantarai (perbaikan) tingkah laku yang rusak
Pada masa kini kita melihat kenyataan bahwa banyak permasalah emosional dalam bidang pekerjaan, pendidikan, perkawinan, hubungan manusia dan kehidupan kemasyarakatan. Hal ini merupakan rangsangan dan inspirasi untuk perluasan penggunaan psikoterapi dalam bidang psikologis, keguruan, pekerjaan sosial, agama, kepemimpinan dan penegak hukum. Kenyataan merasuknya penyakit emosional ke dalam struktur watak individu telah meluaskan tujuan psikoterapi, tidak sekedar mengurangi atau mengubah gejala menuju pada koreksi kerusakan pola hubungan manusiawi. Dalam hal ini ahli psikoterapi mampu menjadi perantara dalam mekanisme perubahan struktur watak individu.
f.        Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif
Akhirnya psikoterapi dapat digunakan sebagai alat untuk mematangkan kepribadian. Lapangan ini merupakan dimensi baru bagi psikoterapi. Pada satu pihak ia berhuungan dengan permasalah kepribadian orang “normal” yang belum matang dan pada pihak lain ia menghadapi kesukaran karakterologi yang berhubungan dengan hambatan pertumbuhan yang memerlukan perawatan. Di sini psikoterapi dapat membantu memecahkan rintangan yang menghambat perkembangan psikososial individu agar dapat mengembangkan atau mendewasakan dirinya secara kreatif, bermakna, lebih produktif dan lebih bermanfaat dalam hubungan dengan orang lain. Sasaran psikoterapi makin luas, tidak saja bertujuan memberikan prtolongan mengendalikan gejala-gejala penyakit emosional, tetapi juga membebaskan potensi kejiwaan manusia yang kaya dari gangguan neurotic yang dapat menghambat tujuan hidup dan merintangi perkembangan realisasi dirinya menuju kedewasaan psikologis.[8]
3. Macam- macam Terapi
Dalam psikologi, kita mengenal adanya tiga fungsi kejiwaan yaitu:
a.       Fungsi kognitif yang digunakan untuk mengenal lingkungan dan diri sendiri seperti kecerdasan, ingatan fantasi, pengamatan dan penginderaan.
b.      Fungsi finalis terdiri dari komponen afektif (perasaan) dan konatif (psikomotorik/niat tindak/motivasi), fungsi ini menyebabkan timbul tingkah laku dan mewarnainya.
c.       Fungsi motorik yang digunakan untuk melaksanakan tingkah laku berupa perbuatan dan gerakan jasmaniah.[9]
2. Tahap-tahap Psikoterapi
a.       Wawancara awal
Dari wawancara awal diharapkan akan diketahui apa yang menjadi permasalahan atau keluhan klien. Dalam tahap pertama ini perlu dirumuskan tentang apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung. Aturan-aturan apa saja yang perlu diketahui oleh klien. Apa yang dilakukan terapi dan apa yang diharapkan dari klien perlu diungkap. Dalam tahap ini persekutuan tentunya perlu dibina rapport yaitu hubungan yang menimbulkan keyakinan dan kepercayaan klien bahwa ia akan dapat ditolong.
Selain itu perlu juga dikembagkan komitmen klien untuk menjalankan perannya sebagai klien. Ia harus bersedia untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya tanpa diseleksi. Ia bersedia mengkomunikasikan pengalaman-pengalamannya sekaligus mengkajinya. Kerjasama yang baik antara klien dan terapis perlu dibina disini. Kontrak terapiutik perlu dikemukakan di tahap ini.
b.      Proses terapi
Pada tahap ini terapis memberikan intervensi. Agar terjadi komunikasi yang baik perlu dilakukan beberapa hal yaitu menkaji pengalaman klien, menggali pengalaman masa lalu kalau itu relevan dengan keluhan klien. Hal yang tidak kalah penting adalah mengkaji hubungan antara terapis dank lien saat ini dan di sini. Juga dilakukan pengenalan, penjelasan dan pengertian perasaan dan arti-arti priadi pengalaman klien.
c.       Pengertian ke tindakan
Tahap ini dilaksanakan pada saat menjelang terapi berakhir. Di sini terapis mengkaji bersama klien tentang apa yang telah dipelajari klien selama terapi berlangsung. Kemudian apa yang telah diketahui klien akan diterapkan ke dalam perilakunya sehari-hari perlu didiskusikan dengan klien dalam tahap ini. Hal ini sangat penting dilakukan supaya tujuan terapi yang telah disepakati bersama dengan jelas dapat tercapai.
d.      Mengakhiri terapi
Terapi dapat berakhir kalau tujuan telah disepakati. Tetapi terapi dapat pula berakhir kalau klien tidak melanjutkan terapi. Demikian pula terapis dapat mengakhiri terapi kalau ia tidak dapat menolong kliennya. Ia mungkin perlu merujuk pada ahli lain. Beberapa pertemuansebelum pengakhiran terapi, klien perlu diberitahu. Hal ini penting karena klien akan menghadapi lingkungannya nanti sendiri tanpa bantuan terapis. Ketergantungannya kepada terapis slama ini sedikit demi sedikit harus dihilangkan dengan menumbuhkan kemandirian klien.[10]
E. Psikoterapi Islam dan Objeknya
Psikoterapi Islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit baik mental spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan al-Quran dan as-sunnah nabi saw. atau secara empiris adalah melalui bimbingan dan pengajaran Allah swt, malaikat-malaikat-Nya atau ahli waris para nabi-Nya.
Firman-Nya (Qs. Al-Baqarah 2 : 282)
Objek atau sasaran yang menjadi focus penyembuhan perawatan atau pengobatan psikoterapi Islam adalah manusia secara utuh yakni yang berkaitan atau menyangkut dengan gangguan pada :
a.       Mental, yaitu yang berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran akal dan ingatan. Seperti mudah lupa, malas berpikir, tidak mampu berkonsentrasi, picik, tidak dapat mengambil suatu keputusan dengan baik dan benar, bahkan tidak memiliki kemampuan membedakan antara halal dan haram yang bermanfaat dan mudharat serta yang hak dan batil.
b.      Spiritual, yaitu yang berhubungan dengan masalah ruh, semangat atau jiwa, religious, yang berhubungan dengan agama, keimanan, kesalehan dan menyangkut transendetal. Seperti syirik (menduakan Allah), nifaq, fasiq dan kufur, lemah keyakinan dan tertutup atau terhijabnya alam ruh, alam malakut dan alam ghaib, semua akibat kedurhakaan dan pengingkaran kepada Allah.
c.       Moral (akhlak), yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang akan melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran, perimbangan atau penelitian; atau sikap mental atau watak yang terjabarkan dalam bentuk berpikir, berbicara, bertingkah laku dan sebagainya sepagai ekspresi jiwa.
d.      Fisik (jasmaniyah), tidak semua gangguan fisik dapat disembuhkan dengan psikoterapi islam, kecuali memang ada izin Allah swt.
Beberapa ayat al-Quran menunjukkan bahwa agama mempunyai sifat terapeutik bagi gangguan jiwa.
(QS. Yunus, 10: 57)
(QS. Al-Isra, 17: 82)
(QS. Fushilat, 41:44).[11] 
F. Agama sebagai psikoterapi
1. Motivasi Beragama
            Berdasarkan peranan dan kegunaan agama bagi kehidupan psikis manusia yaitu :
a.       Sebagai efek, akibat atau kelanjutan proses kimiawi dan faali tubuh (bersifat otomatis atau kodrati (mengenai kerja atau gerak alat tubuh)
b.      Penyaluran suatu instink
c.       Pelarian untuk mengatasi konflik
d.      Jawaban atau pemenuhan kebutuhan yang tidak terpuaskan karena adanya frustasi yang dialami manusia berbagai bidang kehidupannya.[12]
2. Fungsi agama dalam kehidupan
a.       Agama memberikan pencerahan dalam kehidupan manusia
b.      Agama dapat memberikan bimbingan dan petunjuk dalam hidup manusia
c.       Agama dapat mententramkan batin
d.      Agama dapat mengajarkan nilai-nilai moral dan sebagainya.
3. Langkah-langkah terapi yang religius :
a.       Menciptakan kehidupan islami dan religius
b.      Banyak-banyak beribadah, berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT
c.       Meningkatkan kualitas dan kuantitas dzikir
d.      Melaksanakan rukun iman, rukun Islam serta berbuat ikhsan
e.       Menjauhi sifat-sifat tercela
f.        Mengembangkan sifat-sifat terpuji.
4. Metodologi Psikoterapi Islam
a.       Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah sebuah metode yang selalu dan sering diaplikasikan dalam dunia pengetahuan pada umumnya. Metode-metode itu seperti interview, eksperimen, observasi, tes dan survey di lapangan.
b.      Metode keyakinan
      Metode keyakinan adalah metode berdasarkan suatu keyakinan yang kuat yang dimiliki oleh seseorang peneliti. Keyakinan itu dapat diperoleh melalui pertama, ilmu Yaqin yaitu suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu teoritis. Kedua, melalui Ainul Yaqin yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara. Ketiga, Haqqul Yaqin, yaitu suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan dan penghayatan pengalaman. Keempat, kamalul yaqin yaitu suatu keyakinan yang sempurna dan lengkap, karena ia dibangun atas keyakinan berdasarkan hasil pengamatan dan penghayatan teoritis (ilmul yaqin), aplikatif (ainul yaqin), dan empirik (haqqul yaqin).
c.       Metode Otoritas (method of authority)
      Yaitu suatu metode dengan menggunakan otoritas yang dimiliki oleh seorang peneliti atau psikoterapi, yaitu berdasarkan keahlian, kewibawaan dan pengaruh positif.
d.      Metode Intuisi atau Ilham (method of intuition)
      Yaitu metode yang berdasarkan ilham yang bersifat wahyu yang datangnya dari Allah SWT. Metode ini sering dilakukan oleh para sufi.[13]






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
      Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dengan lingkungannya. Psikologi  agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Agama dan yang terkait dengan agama  seperti Tuhan, spiritual dan keimanan.
      Secara harfiah psikoterapi berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan therapy yang berarti penyembuhan. Psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa atau usada jiwa atau usaha mental. Psikoterapi Islam adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit baik mental spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan al-Quran dan as-sunnah nabi saw.
Agama sebagai psikoterapi, pada dasarnya bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang ada pada jiwa dan hakikat manusia itu sendiri, maksudnya manusia memiliki daya berpikir yang ada pada akalnya, pada hakikat nya itu sendiri adalah bagaimana manusia itu menjalankan segala kejiwaan atau perilaku yang ada di batinnya seperti mengerjakan shalat, puasa, zakat, dan haji.
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, kami ucapkan terimakasih.






DAFTAR PUSTAKA


Ahyadi, Abdul Aziz, 1987. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila Bandung : Sinar Baru Algensido

Rahayu, Iin Tri, 2006. Psikoterapi Perspektif Islam, Malang : UIN Malang

Raharjo, 2002. Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Semarang : Pustaka Rizki Putra

Ghufron-dimyati.blogspot.com/2012/10/pa-a6-peran-agama-sebagai-psikoterapi.html?m=1










[1] Raharjo, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2002), hlm. 3
[2] Ibid, hlm. 13
[3] Ibid, hlm. 5
[4] Ibid, hlm. 7
[5] Ibid, hlm. 9
[6] Ibid, hlm. 10-12
[7] Iin Tri Rahayu, Psikoterapi Perspektif Islam, (Malang : UIN Malang, 2006), hlm.191-192
[8] Ibid, hlm. 206-208
[9] Ibid, hlm. 202-203
[10] Ibid, hlm. 206-208
[11] Ibid, hlm. 210-211
[12] Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila, (Bandung : Sinar Baru Algensido, 1987), hlm. 176
[13] Ghufron-dimyati.blogspot.com/2012/10/pa-a6-peran-agama-sebagai-psikoterapi.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar