Rabu, 10 Desember 2014

Kenakalan Remaja dengan Menggunakan Terapi Al-Quran

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Secara umum psikoterapi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang baik itu emosi, mental, pengetahuan dan pemahaman diri dan perubahan tingkah laku. Maka psikoterapi Islampun secara umum bertujuan mengeksploitasi diri dan memahami diri sebagai makhluk berkepribadian, sebagai makhluk bersosial dan sebagai makhluk yang menghambakan diri kepada Allah SWT., sehingga akan terjadi perubahan tingkah laku yakni kondisi psikis yang tercermin dalam sikap yang sehat dan dinamis menuju kepada ketenangan, ketentraman dan kebahagian dalam kesehaatan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam sebagai upaya meraih Ridha Allah.
B.       Rumusan Masalah
1.    Apa itu kenakalan remaja ?
2.    Bagaimana mengatasi kenakalan remaja dengan menggunakan terapi Al-Quran ?
3.    Bagaimana langkah-langkahnya melalui metode psikoterapi Al-Quran ?








BAB II
PEMBAHASAN

A.  Kenakalan Remaja
Beberapa pakar psikologi berpendapat kenakalan remaja adalah sumber dari malapetaka di masa depan. Hal ini selain disebabkan bahwa kenakalan remaja merupakan awal dari kenakalan kedewasaan, kenakalan remaja juga merupakan kunci dari berbagai persoalan yang yang ada dimasyarakat. Melihat fenomena seperti itu tidak heran bila tokoh-tokoh agama Islam mendirikan pondok pesantren sebagai basis dari pendidikan moral dan agama untuk mengatasi kenakalan remaja. Pondok pesantren lebih terfokus mengatasi kenakalan remaja karena setiap anak didik (santri) selalu dalam pantauan ustadz. Metode Al-Quran untuk mengatasi kenakalan remaja didalam pola pendidikan pondok pesantren terdapat lingkungan pendidikan yang kondusif untuk mengatasi masalah kenakalan remaja. Karena selain dididik secara intensif melalui metode-metode pendidikan agama, lingkungan pondok pesantren yang independen dari berbagai pengaruh lingkungan sekitar menjamin pola pendidikan moral agama tidak tercemar dengan lingkungan sekitar yang bermasalah.[1]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia menjadi antisosial adalah adalah
1. Pola asuh keluarga.
Orang tua yang tidak menyerapkan aturan-aturan di dalam keluarga sehingga membuat anak menjadi tidak terorganisasi. Orang tua yang terlalu menyanyangi anaknya/membela anaknya walaupun salah/melindungi anaknya dari kesalahan sehingga membuat anaknya menjadi manja.
2. Figur Orang tua
Orang tua yang tidak mempunyai model yang baik, orang tua yang mempunyai perilaku antisosial menyebabkan anak-anaknya mengikuti model dari orang tuanya. Kehilangan orang tua atau tidak adanya figur orang tua juga menyebabkan anaknya tidak dapat menemukan model yang akan dicontohinya.
3. Lingkungan.
Salah satu perkembangan dan kepribadian manusia ditentukan oleh faktor lingkungan.
4. Biologis/Genetika.
Ahli ilmu pengetahuan menemukan bahwa ada kesalahan atau kerusakan otak pada sang anak.
Dalam Al-Quran, Allah SWT memerintahkan kepada orangtua untuk menjaga anaknya agar tidak melakukan kenakalan dan kejahatan yang ada di QS. at-Tahrim : 6
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Syariat islam juga mengajarkan, bahwa anak adalah termasuk bagian dari sumber kebajikan dan kemanfaatan bagi kedua orang tua, baik ketika masih hidup maupun sesudah mati.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abi Hurairah diterangkan bahwa Rasulullah telah bersabda :
إِدا ماَتَ ابْنُ ادم انفَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثلاثٍ : صدقةٍ جاريةٍ أو علم ينتفعُ أو ولدٍ صالحٍ يدعولهُ
Artinya : Apabila manusia meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih senantiasa mendoakan orangtuanya.[2]
B.  Mengatasi Kenakalan Remaja dengan menggunakan Terapi Al-Quran
Macam terapi ini saya ambil dari terapi keagamaan, yaitu terapi yang digunaan dengan pendekatan keagamaan. Terapi jenis ini diterapkan dengan menggunakan pendekatan ayat-ayat Al-Quran, hadits Nabi, dan pemikiran-pemikiran keislaman yang secara implisit mengandung terapi. Namun terapi ini rentan sekali dengan perdebatan. Terapi ini dimaksudkan agar seseorang bebas dari rasa cemas, tegang, depresi, dan lain-lain. Banyak orang yang menggunakan terapi jenis ini dengan doa-doa dan zikir-zikir yang intinya memohon kepada Allah agar diberi ketenangan hati.[3]
Al-Quran merupakan wahyu Allah SWT yang diantaranya berisikan informasi-informasi dari-Nya kepada Nabi Muhammad SAW untuk kemudian disampaikan kepada umatnya sebagai tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari
Firman Allah mengenai Psikoterapi melalui Al-Quran terdapat di QS. al-Isra : 82
ãAÍit\çRur z`ÏB Èb#uäöà)ø9$# $tB uqèd Öä!$xÿÏ© ×puH÷quur tûüÏZÏB÷sßJù=Ïj9   Ÿwur ߃Ìtƒ tûüÏJÎ=»©à9$# žwÎ) #Y$|¡yz ÇÑËÈ   .
Artinya : dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.[4]
Dan hadis yang mendukung Psikoterapi melalui al-Quran
 Dari Ali RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik obat ialah al-Qur’an”. (H.R Abu Majah)
Hadis ini mengisyaratkan bahwa al-Quran merupakan obat segala macam penyakit, baik penyakit jiwa maupun penyakit fisik tubuh (raga).[5]
Al-Quran turun untuk mengubah pikiran-pikiran manusia kecenderungan-kecenderungan mereka dan perilaku mereka dan untuk memberi mereka dan untuk memberi mereka petunjuk serta mengubah kesesatan dan kebodohan, mengarahkan kepada apa yang mendatangkan kemaslahatan dan kebaikan, membantu dengan pikiran-pikiran baru tentang tabiat manusia dan misinya dalam hidup, serta tentang nilai-nilai dan pekerti-pekerti baru serta suri teladan yang tinggi bagi kehidupan.[6]
Orang yang sedang mengalami kegelisahan, sudah sewajarnya untuk kembali kepada ajaran Islam. Psikoterapi Islami dengan menggunakan dasar pijakannya dari nilai-nilai dan ajaran agama Islam, tidak hanya ditujukan untuk mengobati penyakit kejiwaan dalam kriteria mental, psikologis, sosial, tetapi juga memberikan terapi kepada orang-orang yang “sakit” secara moral dan spiritual. Dengan demikian psikoterapi Islam dengan cakupan yang lebih luas dapat mengantisipasi permasalahan kejiwaan manusia modern, baik dalam segi kejiwaan itu sendiri maupun segi moral-spiritual.[7]
Tujuan dari Psikoterapi Islam menurut Hamdani Bakran Adz Dzaky adalah untuk memberikan pertolongan kepada setiap individu :
1.      agar sehat jasmani dan ruhani, atau sehat mental, spritual, atau sehat jiwa dan raga
2.      mengenali dan mengembangkan potensial sensual sumber daya insani.
3.      Mengantarkan pada individu yang kontruksi dalam kepribadian etos kerja.
4.      Meningkatkan kualitas keimanan, keislaman, keikhsanan, dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari
5.      Mengantarkan individu mengenal, mencintai dan berjumpa dengan esensi diri, atau jati diri dan citra diri serta Dzat Yang Maha Suci, yaitu Allah SWT.[8]
Al-Quran lebih mendetail dan lebih berhati-hati dalam membentuk kepribadian anak manusia. Pembentukan kepribadian seseorang menurut Al-Quran dimulai dari sebelum lahir. Sehingga dimasa remaja dan masa dewasa seseorang yang dididik sesuai dengan tuntunan Al-Quran akan membentuk manusia yang mempunyai kepribadian yang bagus dan bertanggung jawab. Sehingga timbulnya kenakalan remaja dapat segera diantisipasi dengan metode yang paling tepat dalam mengatasi dan menyelesaikan kenakalan remaja semua diatur dalam Al-Quran.[9]
C.      Langkah-Langkah Melalui Metode Psikoterapi Al-Quran
Langkah-langkah kuratif kenakalan remaja melalui metode Psikoterapi Al-Quran yaitu :
a.         Lingkungan Keluarga. Keluarga sakinah yang dikehendaki fitrah manusia dan agama adalah terwujudnya suasana keluarga bersatu tujuan, selalu dapat berkumpul dengan baik, rukun dan akrab dalam kehidupan sehari-hari, penuh persahabatan, saling menghargai, saling mempercayai, dan bersikap ramah tamah antar satu dengan yang lain.
b.        Lingkungan sekolah. Sistem pendidikan banyak sekali berpengaruh pada remaja. Pendidikan hendaknya mendorong remaja untuk dapat hidup dan mencari hidup dengan kekuatannya sendiri, tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Untuk itu tugas guru atau ustad sebagai pendidik harus lebih memegang peranan penting dalam membantu remaja dalam mengatasi kesulitannya.
c.         Masyarakat. Islam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab tentang apa yang berlaku pada masyarakatnya dan apa yang terjadi disekelilingnya atau terjadi dari orang lain. Terutama jika oranglain itu termasuk orang yang berada dibawah perintah dan pengawasannya seperti istri, anak, dan lain-lain. Dalam firman Allah terdapat di QS. Al-Imran : 104
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ  
Artinya : dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.[10]
            Dari ini nampak jelas bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat dapat mempengaruhi. Jadi dapat kita katakan, bahwa kenakalan remaja tidak dapat kita pisahkan dari pendidikan dan perlakuan yang diterima oleh anak-anak dari orangtua, sekolah, dan masyarakat. Jadi jika kita ingin mengubah dan memperbaiki remaja yang nakal dan mencegah jangan sampai remaja kita pada suatu ketika menjadi nakal, maka faktor dan masalah-masalah mulai dari rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus kita perbaiki.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
 Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia menjadi antisosial adalah pola asuh keluarga, figur orangtua, lingkungan dan biologis genetika. Untuk itu dalam Al-Quran, Allah SWT memerintahkan kepada orangtua untuk menjaga anaknya agar tidak melakukan kenakalan dan kejahatan yang ada di QS. at-Tahrim : 6. Al-Quran merupakan wahyu Allah SWT yang diantaranya berisikan informasi-informasi dari-Nya kepada Nabi Muhammad SAW untuk kemudian disampaikan kepada umatnya sebagai tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Firman Allah mengenai Psikoterapi melalui Al-Quran terdapat di QS. al-Isra : 82.
Langkah-langkah kuratif kenakalan remaja melalui metode Psikoterapi Al-Quran yaitu :
a.         Lingkungan Keluarga. Keluarga sakinah yang dikehendaki fitrah manusia dan agama adalah terwujudnya suasana keluarga bersatu tujuan
b.        Lingkungan sekolah. Pendidikan hendaknya mendorong remaja untuk dapat hidup dan mencari hidup dengan kekuatannya sendiri, tanpa bergantung pada bantuan orang lain.
c.         Masyarakat. Islam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab tentang apa yang berlaku pada masyarakatnya dan apa yang terjadi disekelilingnya atau terjadi dari orang lain. Dalam firman Allah terdapat di QS. Al-Imran : 104
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, kami ucapkan terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA

Adlani, Nazli, 1998. Al-Quran Terjemahan Indonesia, Jakarta : Sari Agung

Adz Dzaky , Hamdani Bakran,  2001. psikoterapi dan Konseling Islam Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru

Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim,  2000. Serpihan Kasih, Jakarta : Pustaka Azzam

E Prawita, Johana dkk, 2002. Psikoterapi Pendekatatan Konvensional dan Kontemporer. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset

Http://Psikoterapi dalam Agama.html

Husain, Mazhahiri, 1989. Pintar Mendidik Anak, Jakarta : Lentera Basritama

Sholihin, Muhammad, 2004. Terapi Sufistik Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Persfektif Tsawuf, Bandung : Pustaka Setia

Utsman, Najati, , 2001. Jiwa Manusia, Jakarta : Cendekia Sentra Muslim
Zakiyah, Drajat, 1994. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara





[1] Najati, Utsman, Jiwa Manusia, (Jakarta : Cendekia Sentra Muslim, 2001), hlm. 21
[2] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Serpihan Kasih, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2000), hlm 4
[3] Muhammad Sholihin, Terapi Sufistik Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Persfektif Tsawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 2004), hlm. 21

[4] Nazli, Adlani, Al-Quran Terjemahan Indonesia, (Jakarta : Sari Agung, 1998), hlm. 2
[5] Http://Psikoterapi dalam Agama.html
[6] Mazhahiri, Husain, Pintar Mendidik Anak, (Jakarta : Lentera Basritama, 1989), hlm.15
[7] Johana E Prawita, dkk, Psikoterapi Pendekatatan Konvensional dan Kontemporer. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2002), hlm. 7
[8] Hamdani Bakran Adz Dzaky, psikoterapi dan Konseling Islam (Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2001),  hlm. 272-273
[9] Najati Utsman, Opcit, hlm. 21
[10] Drajat Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1994), hlm. 33-36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar